sayuti OBMalam semakin larut, tapi mata ini belum bisa terpejam, hati ini masih gundah, dan pikiran ini selalu muncul di kepala hampir seminggu terakhir ini. Apa yang salah dengan kami, dan apa yang salah dengan mereka. Dalam hati ini terlintas pikiran ingin marah, tapi masih tertahan. Karena kembali lagi saya sadar bahwa saya ini bukan siapa-siapa di sini. Bukan hal yang besar sebenarnya yang saya pikirkan, tapi dapat menjadi hal besar buat saya di kemudian hari. Saya ingin bercerita, mengutarakan sedikit dari pikiran saya mengenai sesuatu yang selalu mengganjal di pikiran saya.

Berawal dari munculnya banyak kritikan yang lembut sampai yang terpedas untuk Dn, mengenai tingkah laku dia yang menurut kami tidak seperti seorang lelaki yang sesungguhnya, pekerjaannya yang kurang rapi, dan sering mengeluh apabila di mintain tolong untuk membelikan sesuatu. Awal tahu seperti itu, ada rasa kesal dalam hati ini tentang dia, tetapi lambat laun, saya dan beberapa teman-teman mengetahui sedikit-sedikit penyebabnya. Ya.., mungkin memang dia berbeda dari lelaki secara lazim nya, masalah pekerjaan, lambat laun pun berubah, setelah banyak teguran dari beberapa pihak, menjadi lebih baik, walaupun tidak baik sekali, karena memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, dan kendala yang baru kami tahu juga bahwa dia tidak bisa membaca, itu alasannya kenapa dia setiap di beri catatan untuk membelikan sesuatu pasti salah, karena memang dia tidak bisa membaca. Tapi sebenarnya itu bukan masalah besar, kan bisa yang minta tolong kasih tahu contoh bungkus nya atau apanya untuk dia bawa ke toko/warung tempat dia akan beli barang tersebut. Masalah lain muncul lagi, dan teguran kali ini termasuk keras buat dia, itu yang saya rasakan. Wajar, jika pada waktu saya pulang kembali ke kantor hari Kamis kemarin jam 11 malam dari pendampingan di luar kota, saya dengar Dn mengundurkan diri, dan hari Jumat kemarin adalah yang terakhir dia kerja.

Mungkin hal ini sepele buat banyak orang, bukan hal yang penting untuk di baca, di bahas, dibicarakan, di expose di muka publik, ya.., memang bukan hal penting buat kalian yang tidak mempunyai hati. Mungkin bagi beberapa orang beranggapan bahwa banyak ko yang masih mau kerja di sini, tapi bukan itu point nya. Point di sini adalah mau mencoba mengerti orang lain, dan menerima keadaan orang lain tersebut, dan mencoba untuk memperbaiki apa yang salah pada orang tersebut. Dan hal ini tidak dimiliki oleh mereka yang hanya mengandalkan sekotak keahliannya saja, merasa lebih tinggi, merasa lebih pintar, merasa di butuhkan banyak orang, dan yang selalu mereka agung-agungkan adalah IJASAH yang mereka miliki, kampus yang terkenal, dll, tetapi sebenarnya dalam beberapa hal mereka tidak tahu apa-apa.

Sepulang dari luar kota, saya sempatkan ngobrol dengan Ip walaupun saya sendiri lelah karena baru saja sampai, membicarakan tentang masalah-masalah mereka, tentang alasan Dn keluar, tentang apa yang dia sendiri rasakan, ketidaknyamanan yang mereka rasakan selama mereka bekerja di sini, mengenai jam kerja. Anak-anak ini berasal dari keluarga tidak mampu, adik-adik mereka masih kecil, butuh banyak uang untuk hidup, dan minimnya lapangan pekerjaan yang dapat mereka peroleh. Kalau mereka banyak kekurangan dalam hal bekerja, itu wajar, sangat wajar menurut saya, karena mereka memperoleh pendidikan yang rendah, hanya lulus kelas 2 SD, tetapi ada juga yang lulus SMU. Saya pikir, kalau mereka bisa memilih, mereka juga ga mau jadi OB, enakan juga jadi BOS, tapi keadaan yang memaksa, dan mereka terpaksa.

Ada sebab maka akan ada akibat. Itu pasti. Saya tidak mengajak kalian untuk mengasihani mereka, tetapi dengarkan suara mereka, perlakukan mereka dengan baik dan sopan, jangan merendahkan seseorang hanya dari pekerjaan, pendidikan dan status.

Mungkin banyak hal yang kalian tidak tahu tentang saya, saya akan cerita sedikit tentang saya. Pekerjaan pertama saya adalah OG (Office Girl) di sebuah salon lumayan terkenal di Jogja, saya jalani itu waktu saya kelas 3 SMU selama 1 tahun, setiap hari minggu, libur sekolah, kami (6 orang) membersihkan Salon 2 lantai, kalau kalian pernah ke Jogja, mungkin tahu Salon Larissa jalan C. Simanjuntak, dekat Bunderan UGM. Tidak ada yang memandang kami rendah, perlakuan yang kami terima baik, dan perlu kalian tahu, bahwa kami 6 orang adalah anak-anak berprestasi dari sekolah SMU kami, tetapi kami tidak malu untuk bekerja seperti itu, kami perlu tambahan uang yang kami rasa kurang dari orang tua waktu itu. Keadaan yang membuat kami untuk bekerja seperti itu pada waktu itu. Bayaran pun hanya 10.000 untuk 1 hari, tidak banyak, tetapi dari situ saya belajar menghargai profesi seseorang yang paling rendah sekalipun, menghargai setiap waktu yang Tuhan berikan kepada saya, menghargai setiap yang saya terima mau sedikit atau banyak, berteman tidak pandang orang. Ya.., itu hanya sedikit pengalaman hidup saya, yang mungkin tidak ada orang yang tahu selama ini, tetapi saya banyak belajar dari situ. Pekerjaan sebagai OB tidak lah mudah, yang pasti capek, itu saya tahu banget.

Kemarin pada saat saya tidak menginap di kantor 2 hari, orang yang paling kehilangan saya adalah Ip, dia BB saya, “mba kemana..“, saya bilang, “saya lagi di luar kota P.., maaf tadi ga sempet pamit sama Ip.” Dibalas lagi “sepi kalo ga ada mba..” Mungkin aneh dan gila karena saya di kangenin sama seorang OB, tapi saya berpikir positif, berarti dia senang dengan kehadiran saya di kantor, merasa nyaman dengan saya. Saya tidak pernah risih untuk makan semeja dengan mereka, saur dengan mereka, buka puasa dengan mereka, karena memang saya ini bukan siapa-siapa yang harus mereka takutin. Membuat seseorang nyaman dengan kita bukan hal yang mudah. Saya pikir, rasa nyaman perlu diciptakan untuk menghindari OB-OB lain yang akan mengikuti jejak Dn.

Ke depannya saya berharap kita semua lebih menghargai orang lain bukan dari profesi dan status, berikan ketrampilan, motivasi kepada mereka, agar mereka bisa merubah kehidupan mereka menjadi yang lebih baik lagi di masa depan. Dengarkan keluhan mereka, jangan hanya kita terus yang berkeluh tentang mereka. Mereka berhak untuk bersuara. Dan tolong panggil mereka dengan nama mereka masing-masing, bukan dengan panggilan OB, karena mereka punya nama yang mungkin bisa jadi nama mereka lebih bagus dari pada nama orang yang memanggil mereka dengan sebutan OB.

Akhir kata, salam MIKIR buat kalian semua yang membaca.

asieh